Sabtu, 29 November 2014

Percayakah Anda Orang-Orang Ini Bisa Mendorong Pesawat ?




Kalaupun yang mogok itu mobil pasti sudah biasa. Sebuah kejadian aneh ini terjadi di Siberia, ketika sebuah pesawat di bandara mogok, dan para penumpang berusaha mendorongnya. Dikarenakan karena pilotnya lupa melepas rem pesawat yang mengakibatkan rem tersebut beku. Uniknya para penumpangnya turun untuk mendorongnya. Pesawat yang mogok itu adalah maskapai udara Rusia, UTair tersebut merupakan jenis yang sudah uzur, yakni Tu-134.

Suhu udara yang dingin berkisar -61 derajat Fahrenheit (-50 derajat Celcius) di bandara udara udara Igarka, Siberia, ini membuat para penumpang harus terlebih dahulu mendorong pesawat yang mogok karena membeku tersebut.

Ingin lihat videonya, klik disini

Sumber
Read MorePercayakah Anda Orang-Orang Ini Bisa Mendorong Pesawat ?

Sabtu, 11 Oktober 2014

Menguak Neutrino, Partikel yang Lebih Cepat daripada Cahaya part 2

Penelitian terhadap Neutrino

 

















Neutrino banyak dihasilkan dalam reaksi-reaksi fusi. Pada matahari menghasilkan sekitar dua ratus triliun triliun triliun netrino setiap detik, sedangkan untuk supernova ( bintang yang meledak di akhir hayatnya) dapat menghasilkan neutrino 1000 kali lebih banyak dari neutrino di Matahari. Neutrino tidak berinteraksi dengan materi sehingga mereka bisa tembus berbagai benda termasuk tubuh kita. Lalu, sekitar 65 miliar neutrino dari matahari tiap cm kuadratnya tiap detik datang ke bumi. 

Untuk mengetahui keberadaan neutrino, digunakan sebuah tangki berisi 100 ton tetrakloroetilena (semacam cairan pembersih). Dalam hal ini, neutrino mampu mengubah klor di dalam cairan ini menjadi radioaktif argon. Jadi, argon ini kemudian akan meluruh lagi menjadi klor dengan memancarkan elektron. Elektron inilah yang diamati oleh detektor (alat pendeteksi). Penelitian ini dilakukan oleh Davis di Homestake mines, South Dakota. Dirinya mencatat bahwa energi neutrino yang datang sekitar 0.81 megaelektronvolt.



 

 







Upaya pengukuran  massa neutrino juga pernah dilakukan oleh para peneliti di observatorium Kamiokande Super di Jepang. Observatorium ini terletak 1.000 meter di bawah tanah di Tambang Mozumi di daerah Kamioka Hida. Tangki yang digunakan untuk  mendeteksi Neutrino berdiameter dalam 6 meter dan panjang sekitar 14 meter, letaknya 4850 kaki (sekitar 1,5 kilometer dibawah tanah). Tangki ini diletakkan dibawah tanah supaya klor yang ada dalam tangki tidak berinteraksi dengan partikel-partikel lain dari matahari, selain neutrino. 

Detektor neutron yang digunakan antara lain berupa tabung foto sebanyak 13.000 buah yang ditanamkan dalam tanah pada kedalaman hingga 2 kilometer (km). Penelitian ini menemukan ukuran neutrino yang juga disebut partikel ”titik”, yaitu sepersejuta massa elektron atau di bawah dua elektron volt.





Selain itu, ada lagi peneltian yang bernama OPERA (Oscillation Project with Emulsion-Racking Apparatus) yang dilaporkan peneliti di European Organization for Nuclear Research (CERN) pada tahun 2011.

Dalam penelitian itu dilakukan penembakan partikel neutrino menembus Bumi dari CERN Swiss hingga ke Gran Sasso National Laboratory di Italia. Bila ditarik garis lurus dari penampang Bumi, jaraknya mencapai 730 km dengan kedalaman 1.400 meter. Penelitian selama tiga tahun itu bertujuan mengukur waktu kedatangan 15.000 neutrino.

Mereka sempat menyebutkan neutrino berkecepatan 299.798 km per detik, yaitu di atas cahaya, yang 299.792 km per detik. Namun, hasil itu kemudian dikoreksi karena ternyata saat pengukuran terjadi gangguan teknis pada salah satu kabel di instalasi yang digunakan.

Penelitian ulang yang dilakukan tim dari Imaging Cosmic and Rare Underground Signals (ICARUS) di lokasi sama menunjukkan kecepatan neutrino sama dengan kecepatan cahaya, tidak superluminal (lebih cepat dari cahaya).



Nah, dari penelitian diatas, para peneliti sudah berulangkali mencoba mendeteksi kecepatan dan massa dari neutrino. Penelitian inipun membuka dunia baru bagi astronomi. Dan bisa dikatakan, jika para ilmuwan sudah berhasil mendeteksi kecepatan dari neutrino, memungkinkan kecepatannya melebihi kecepatan cahaya dan mengalahkan teori relativitas Einstein. Wallahualam.




sumber
sumber2
Read MoreMenguak Neutrino, Partikel yang Lebih Cepat daripada Cahaya part 2

Sabtu, 04 Oktober 2014

Menguak Neutrino, Partikel yang Lebih Cepat daripada Cahaya part 1





Neutrino adalah salah satu jenis partikel elementer (fermion) yang memiliki massa sangat kecil. Gabungan 3 jenis Neutrino hanya bermassa kurang dari 0,28 eV (elektron-Volt). Coba, bandingkan dengan massa elektron sebesar 105,6 MeV (Mega-elektron-Volt). Partikel subatom ini tidak bermuatan listrik sehingga tidak berinteraksi dengan partikel lain. Oleh karena itu, partikel ini belum bisa diidentifikasikan secara pasti oleh teknologi yang ada. Selain itu, neutrino dengan mudah melewati materi apa pun di jagat raya, termasuk Bumi.

 
Neutrino sulit terdeteksi karena kemunculannya menyertai paparan sinar Matahari ke Bumi. Setiap detik, ada sekitar 65 miliar neutrino dari Matahari melewati areal seluas satu sentimeter persegi di muka Bumi.






Neutrino bukanlah material baru.
Partikel ini sudah diusulkan oleh Pauli pada tahun 1930.
Ketika itu Pauli dan para fisikawan sedang bingung karena tidak dapat menjelaskan secara pasti energi yang hilang dalam peristiwa peluruhan beta (beta decay)
yang mengubah neutron menjadi proton dan elektron. Mereka bingung karena ada
energi yang hilang. Pauli kemudian mengambil inisiatif dan mengusulkan bahwa
energi yang hilang ini sebenarnya dipakai oleh suatu partikel yang tidak bermassa,
tidak terlihat dan bergerak dengan kecepatan cahaya. 


  
 
Empat tahun kemudian, Enrico Fermi menamakan partikel ini, neutrino ( artinya “little neutral one”).

Lalu penemuan tiga jenis atau variasi neutrino pada tahun 1956 oleh Fred Reines dan Clyde Cowan dalam eksperimen di reaktor nuklir. Reines kemudian meraih Hadiah Nobel Fisika tahun 1995.

Read MoreMenguak Neutrino, Partikel yang Lebih Cepat daripada Cahaya part 1

Subscribe